CO2 conversion into dimethyl ether (DME)
can be done using two methods connected online which are CO2
electrolysis with Cu cathode and heterogeneous catalysis of output syngas under
CuO-ZnO-Al2O3(CZA)/γ-Al2O3 catalyst.
Constant current electrolysis was performed on a single cell reactor with the
potential range of -6V to -10V, whereas the catalysis method was performed in a
fixed bed reactor at temperature of 240˚C to 300˚C. The quantity of dimethyl
ether depended on the ratio of syngas (CO and H2) generated from the
electrolysis of CO2 and water, while the ratio of the syngas is
affected by the pH of electrolyte solution. The amount of the active catalyst
CZA/γ-Al2O3 affected to quantity of DME product and also
the temperature of catalysis reaction. The highest amount of DME was obtained
at pH 8, temperature catalyst of 300˚C, and 3 gram catalyst with the percent
conversion of 8.20% and amount of DME product is 12.47 μmol. The low product
yield was assumed de to the adsorption of Cu has a great power to the CO, so
that the amount of CO gas formed in the reduction of CO2 to be not
optimal.
Keywords:
Electrolysis of CO2; Syngas
Catalysis; GC-FID analysis
LATAR BELAKANG
Gas
alam sebagai energi memiliki
peranan yang penting bagi Indonesia saat ini dan di masa yang akan datang. akan
tetapi, kendungan karbon dioksida (CO2) dalam beberapa sumur gas
alam mempunyai kadar yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan unsur lain yang
dibutuhkan, sehingga menyebabkan eksplorasi sumber daya gas alam tidak dapat
dilakukan. konversi CO2 menjadi senyawa lain merupakan salah satu
solusi untuk mengurangi kadar CO2 dalam sumur gas alam. Konversi CO2 menjadi dimetil eter (DME) dapat menjadi
solusi yang tepat dalam mengurangi kadar CO2 dalam sumur gas alam. konversi CO2 menjadi dimetil eter (DME) dapat dilakukan
menggunakan dua tahapan proses elektrolisis menggunakan elektroda Cu dan
katalisis menggunakan katalis CuO-ZnO-Al2O3/y-Al2O3.
TUJUAN
- Mengubah (mengkonversi) CO2 menjadi dimetil eter (DME) dengan menggunakan metode reduksi elektrokimia (elektroreduksi) dan reaksi katalis yang terhubung secara online.
- Mengetahui pengaruh pH larutan elektrolit terhadap hasil reaksi elektrolisis CO2.
- Mengetahui
pengaruh temperatur dan berat katalis terhadap hasil reaksi katalisis keluaran
elektrolisis CO2.
Karbon
dioksida (CO2) adalah senyawa dengan atom karbon C
dalam keadaan teroksidasi sempurna, sehingga diperlukan energi luar untuk
mereduksinya. CuO-ZnO-Al2O3 merupakan katalis sintesis
metanol dan γ-Al2O3 merupakan katalis dehidrasi metanol. Campuran
keduanya yang diendapkan secara bersamaan menjadi satu katalis, dapat digunakan
untuk sintesis dimetil eter (DME) tanpa melalui pembentukan metanol.
METODE PENELITIAN
Konversi
karbon dioksida CO2 menjadi dimetil eter (DME) C2H6O
dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu metode elektrokimia dan metode
katalisis, yang mana keduanya terhubung secara online. Hasil reaksi elektrolisis CO2 langsung masuk
pada reaksi katalisis, dan hasil reaksi katalisis dianalisis menggunakan gas
kromatografi (GC).
Pada metode
elektrokimia, jenis reaksi yang terjadi adalah reaksi reduksi CO2 secara
elektrokimia atau yang dikenal dengan istilah elektroreduksi CO2 di
mana produk utama yang dihasilkan adalah gas CO dengan menggunakan elektroda Cu.
Selain itu juga dilakukan reduksi air menjadi gas H2 dengan
menggunakan elektroda Stainless steel,
sehingga hasil yang diharapkan adalah perbandingan CO dan H2 mempunyai
nilai 1:2, maka campuran syngas ini
dapat diubah menjadi gas dimetil eter (DME) melalui metode berikutnya yaitu
metode katalisis. Pada metode katalisis, campuran syngas (CO/H2) yang dihasilkan dari reaksi
elektroreduksi CO2 diubah menjadi gas dimetil eter (DME) menggunakan
katalis CuO-ZnO-Al2O3/γ-Al2O3.
HASIL PENELITIAN
Skema Rancangan Reaktor Konverter
CO2 Double Process
Karakterisasi Katalis
Struktur XRD prekursor katalis (sebelum dilakukan kalsinasi) yang telah dikeringkan dalam oven 110 C d
Struktur XRD prekursor
katalis (sebelum dilakukan kalsinasi) yang telah dikeringkan dalam oven 110oC
ditunjukkan pada gambar 2. Dari hasil percobaan
didapatkan hidroksikarbonat dari sistem biner Cu-Zn dengan ratio molar
Cu:Zn = 2:1 mengalami transisi warna dari biru sian menjadi biru kehijauan
selama masa pencucian 6 x 12 jam dengan air. Hal ini menunjukkan bahwa
terbentuk fasa transisi dari tembaga nitrat hidroksida Cu2(NO3)(OH)2,
dan hydrozincite Zn5(CO3)2(OH)6
menjadi beberapa senyawa seperti hidrotalsit yang mempunyai rumus stoikiometri
CuxZn6-xAl2(OH)16(CO2).4H2O dan malasit Cu2CO3(OH)2.
Kedua fasa tersebut akan terlihat secara jelas pada peak hasil XRD. Diketahui
hidrotalsit merupakan prekursor katalis dan akan membentuk CuO-ZnO-Al2O3
setelah dilakukan kalsinasi dalam furnace
temperatur 350oC dengan laju kenaikan temperatur 2oC/detik.
CuO yang terdispersi kuat ke dalam ZnO dikatakan dapat menaikkan aktifitas katalis.
Gambar
2. Strurtuk XRD katalis sebelum kalsinasi
Data hasil XRD menunjukkan karakteristik peak yang
terbentuk secara koresponden merujuk kepada tiga senyawa (dibandingkan dengan
data peak standar XRD), yaitu hidrotalsit (HTlc), malasit, dan CuO. Akan
tetapi, yang dominan adalah hidrotalsit. Dari data tersebut dapat dijelaskan
bahwa struktur fasa transisi seperti tembaga nitrat hidroksida, hydrozincite, dan malasit merupakan senyawa pertama kali yang
terbentuk pada system Cu-Zn, dan kemudian terbentuk Hydrotalcite ketika alumunium ditambahkan. Adapun CuO sudah mulai
terbentuk selama masa pengeringan dalam oven walaupun masih sedikit. Hal ini
karena Cu mempunyai kadar yang lebih besar dibandingkan dengan Zn dan Al.
Struktur XRD katalis setelah dilakukan
kalsinasi ditunjukkan pada gambar 4.9. Proses kalsinasi dengan
temperatur 350 C dan laju kenaikan temperatur 2 C/detik bertujuan untuk
mendekomposisi seluruh hidroksikarbonat menjadi oksida logam (metal
oxide). Kalsinasi dengan laju kenaikan termperatur yang terlalu cepat
akan menghasilkan krostal CuO yang besar. Data hasil XRD menunjukkan
puncak (peak) dengan intensitas yang tinggi pada CuO dan ZnO, sedangkan
Al2O3 ditunjukkan puncak dengan intensitas yang lebih kecil. Hal ini
dikarenakan kadar Cu dan Zn lebih besar dibandingkan dengan Al. Selain
itu, terdapat juga peak hidrotalsit yang menunjukkan bahwa kalsinasi
yang telah dilakukan kurang maksimal, sehingga fasa transisi tidak
terdekomposisi secara sempurna menjadi oksida logam.
Gambar 4.9 Struktur XRD
Katalis Setelah Kalsinasi
PEMBAHASAN
Reaksi reduksi CO2 secara elektrokimia tidak mudah berlangsung (terjadi)
dan pada kenyataannya potensial elektrolisis untuk reduksi CO2 lebih
negatif dari nilai potensial reduksi standar CO2 menjadi CO yaitu
pada potensial -0,52 V. Hal ini disebabkan
karena reduksi elektron tunggal CO2 menjadi CO2 *- yang mana ini merupakan tahap awal untuk mengaktifkan CO2 terjadi
pada potensial
-1,9 V. Hal ini menunjukkan tingginya reorganisasi energi
(reorganizational energy) antara molekul linier dengan anion radikal
tekuk. Tahapan ini juga ditentukan oleh tahap penentuan laju (rate
determaining step/RDS) untuk reduksi CO2.
Gambar
3. Tahapan Reaksi Reduksi CO2
Adapun reaksi katalisis syngas menjadi DME, Cu bertindak sebagai sisi aktif dari katalis
yang berfungsi mengadsorbsi gas CO dan membuat CO menjadi aktif, sehingga dapat
mengalami reaksi hidrogenasi menjadi CH3O*. Adapun Zn bertindak
sebagai promotor dari katalis yang berfungsi untuk menjaga sisi aktif dari
katalis yaitu Cu tidak mudah terjadi sintering dan dapat mendeaktifasi katalis.
Pada katalis bifungsi, dua macam sisi
aktif dalam katalis memiliki kontak yang lebih dekat, sehingga transformasi
dari CH3O diadsorbsi pada ‘*’ berpindah tempat secara langsung ke
fasa ‘a’ tanpa melalui proses pembentukan CH3OH (g), karena hidrogenasi
dari CH3O* menjadi metanol merupakan reaksi yang paling lambat dalam
proses sintesis dimetil eter, sehingga pembentukan metanol tidak terjadi.
Pengujaian konversi CO2 pada penelitian
ini dilakukan dengan beberapa variasi, diantaranya adalah variasi pH buffer
fosfat, jumlah katalis, temperatur katalis dan
pengujian konversi CO2
tanpa penambahan elektrolisis air.
KESIMPULAN
- Konversi CO2 menjadi dimetil eter (DME) dapat dilakukan melalui dua tahapan proses, yaitu elektrolisis CO2 dengan elektroda Cu dan katalisis dengan katalis CuO-ZnO-Al2O3/γ-Al2O3 yang keduanya berlangsung secara online.
- pH Buffer fosfat mempengaruhi reduksi elektrokimia CO2, yang berpengaruh terhadap produk DME yang dihasilkan, di mana pH optimum konversi CO2 menjadi DME terjadi pada pH Basa lemah.
- Temperatur katalis mempengaruhi hasil katalisis syngas (CO/H2) menjadi dimetil eter, di mana keaktifan katalis semakin meningkat dengan meningkatnya temperatur.
- Semakin banyak jumlah katalis, maka semakin banyak pula jumlah sisi aktif katalis, sehingga konversi CO2 menjadi dimetil eter juga meningkat.
- Hasil optimum reaksi katalisis pada penelitian ini terjadi pada pH 8, jumlah katalis 3 gram dan pada temperatur 300˚C, dengan persen konversi terbesar yang didapatkan yaitu 8,20% atau sebesar 12,47 μmol.
DAFTAR REFERENSI
Akira Rujishima, et al., 1993. Research
in Electrochemical and Photoelectrical Carbon Dioxide Fixation. Nedo International
Joint Research Grant.
Anom
Sulistyo. 2000. Preparasi, Karakterisasi
dan Uji Aktivitas Katalis Film dan Serbuk TiO2-SiO2 untuk reduksi CO2
secara Fotokatalitik. Tesis Departemen Teknik Gas dan Petrokimia
Universitas Indonesia.
Anshory, I. 1988. Penuntun Pelajaran Kimia Untuk SMA. Bandung :
Ganesha Exact.
C. M.
Sánchez -Sánchez, , V. Montiel, D. A. Tryk, A. Aldaz, and A. Fujishima. 2001. Electrochemical
approaches to alleviation of the
problem of carbon dioxide accumulation. Pure Appl. Chem. Vol. 73, No. 12, pp. 1917–1927
C.S. Song, 2002. Proceedings of 2nd
topical Converence on Natural Gas Conversion and Utilization. Held in
conjunction with AlChE 2002 Spring National Meeting, New Orleans, March 11-14,
p. 402.
C.S.
Song, W. Pan, S.T. Srimat, J. Zheng, Y. Li, T.H. Wang, B.Q. Xu, Q.M. Zhu. 2004.
Tri-reforming of methane over Ni catalysts for CO2 conversion to
syngas with desired H2/CO ratios using flue gas of power plants
without CO2 separation, Stud. Surf. Sci. Catal. 153 - 315.

0 komentar :
Posting Komentar