Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak pernah luput
dalam menggunakan zat-zat atau senyawa-senyawa yang bersifat asam dan basa.
salah satunya adalah aspirin dan sabun. Banyak orang yang tidak mengerti apa
itu aspirin, yang mereka tahu adalah aspirin digunakan sebagai obat sakit
kepala dan pusing. Nama ilmiah dari
aspirin adalah asam asetilsalisilat (acetylsalicylic
acid), naah dari namanya aja sudah ketahuan bahwa aspirin bersifat asam. Kemudian
bagaimana dengan sabun? setiap hari setiap orang menggunakan sabun untuk membersihkan
badan mereka, sabun bersifat basa, karena sabun terdiri atas senyawa lemak dan
alkali (seperti NaOH dan KOH). Bagian alkali inilah yang menyebabkan sabun
bersifat basa.
PENGERTIAN UMUM ASAM
DAN BASA
Asam didefinisikan sebagai substansi yang jika
dilarutkan dalam air (H2O) akan mengion menghasilkan ion H+
(ion hidrogen). Sedangkan basa merupakan substansi yang jika dilarutkan dalam
air akan mengion menghasilkan ion OH- (ion hidroksida). Teori ini
dikemukakan oleh seorang kimiawan asal swedia Svante Arrhenius pada awal abad
ke-19. Beberapa ciri asam dan basa adalah sebagai berikut:
Asam
- Asam mempunyai rasa masam di lidah, seperti contoh, buah jeruk, lemon, cuka, dll.
- Asam menyebabkan perubahan warna pada kertas litmus menjadi merah.
- Jika bereaksi
dengan logam, seperti besi, magnesium, seng akan menghasilkan gas hidgrogen (H2),
seperti pada contoh reaksi berikut.
6HCl(l) + 2Fe(s)2FeCl3(l) + 3H2(g)
- Jika bereaksi dengan senyawa karbonat, seperti Na2CO3, HCO3- akan menghasilkan gas CO2. Seperti pada contoh reaksi berikut.
HCl(l) + CaCO3(s)
CaCl2(s) + H2O(l) + CO2(g)
Basa
- Basa mempunyai rasa pahit di lidah, seperti contoh, sabun,
- Menyebabkan perubahan warna pada kertas litmus menjadi biru
- Terasa licin di tangan.
- Dapat menghantarkan listrik (bersifat elektrolit).
Jika kita cermati, teori asam basa yang dikemukakan
oleh Arrhenius, hanya terbatas pada substansi yang terlarut dalam air (H2O)
saja. Kemudian, bagaimana kita menjelaskan sifat keasaman atau kebasaan suatu
gas, seperti gas CO2, atau bagaimana kita menjelaskan sifat amonium
NH3 yang tidak mengandung subtansi ion H+ maupun OH-?
Dalam perkembangannya, ternyata konsep asam dan basa
tidak sesempit teori yang di kemukakan oleh Svante Arrhenius yang hanya berlaku
pada larutan (aqueos) atau zat yang
terlarut dalam air saja. Seorang kimiawan abad ke-20 bernama Danist Johannes Bronsted
mengemukakan bahwa asam merupakan substansi pendonor proton, sedangkan basa
merupakan substansi aksektor proton.
Asam klorida disebut sebagai asam bronsted karena di
dalam air mendonorkan proton (H+), seperti pada persamaan reaksi berikut.
HCl
H+ + Cl-
Kenapa H+ disebut sebagai donor proton? Hal
ini karena ion hidrogen merupakan atom hidrogen yang kehilangan satu
elektronnya, sehingga yang tersisa adalah proton, kondisi ini menyebabkan ion (kation)
hidrogen bersifat tidak stabil dan reaktif terhadap senyawa yang bersifat anion
yakni yang mengandung ion negatif (negative
pole), dalam air ion hidrogen akan menjadi bentuk yang terhidrat menjadi H3O+,
seperti pada reaksi berikut.
HCl + H2O
H3O+ + Cl-
Adapun contoh senyawa basa bronsted adalah NH3,
dalam air NH3 akan bereaksi menjadi NH4+ yang
artinya NH3 menerima proton (H+) dari air atau kita sebut
sebagai akseptor (penerima) proton H+, seperti pada reaksi berikut.
NH3 + H2O
NH4+ + OH-
Terdapat tiga jenis asam yakni asam monoprotik, asam
diprotik dan asam triprotik. Asam monoprotik merupakan substansi asam yang
menghasilkan satu ion H+ jika mengion dalam air, seperti contoh HNO3
dalam air akan mengion menghasilkan satu ion H+.
HNO3
H+ + NO3-
Asam diprotik merupakan substansi asam yang menghasilkan
dua ion H+ jika mengion dalam air, seperti contoh H2SO4
dalam air akan menghasilkan dua ion H+.
H2SO4
H+ + HSO4-
HSO4-
H+ + SO42-
Sedangkan asam triprotik merupakan substansi yang
akan menghasilkan tiga ion H+ dalam air, seperti H3PO4
yang akan menghasilkan tiga ion H+.
H3PO4
H+ + H2PO4-
H2PO4-
H+ + HPO42-
HPO42-
H+ + PO43-
Perbedaan pada jenis asam ini menyebabkan sifat yang
berbeda pada masing-masing jenis (monoprotik, diptotik dan triprotik), terutama
pada sifat keelektrolitan senyawa asam. Asam monoprotik tergolong elektrolit
kuat, karena proses ionisasi hanya terjadi satu step, sedangkan asam diprotik
relatif tidak lebih kuat sifat keelektrolitannya dibandingkan dengan asam
monoprotik karena proses ionisasinya terjadi dua kali. Adapun asam triprotik
relatif bersifat lemah sifat keelektrolitannya, karena mengalami tiga kali step
ionisasi.
Daftar pustaka
Daftar pustaka
Chang, Raymond, et.al.
2011. General Chemistry. New York:
The MC-Grow-Hill Companies.

0 komentar :
Posting Komentar